Aku Hanya Sedang Berjuang
Hai ,, ibu-ibu seperjuanganku.. Ibu-ibu bergelar istri namun belum merasakan panggilan "Ibu" dari seorang bayi mungil. Apa kabar mentalnya?? masih baik-baik saja? atau sudah terjun payung berulang-ulang kali? buat kita hidup seperti tidak adil kan bun? kita sudah banyak asupan gizi,olahraa sampai lelah, jaga pola hidup, usaha kesana kemari, konsumsi vitamin, obat, berjuang mengelola stress dan usaha apapun sudah dicoba. Tapi Semesta bilang belum, kita disuruh bersabar.
Tiba-tiba secara gamblang kita dengar tetangga yang masih sangat belia ABG hamil diluar nikah. terkadang juga kita mendengar diberita "Ditemukan bayi ditempat sampah yang di duga dibuang oleh ibu kandungnya" atau berita dengan judul "Seorang ibu tega menghabisi nyawa anaknya dikarenakan stress berat dikarenakan kemiskinan" atau " Seorang gadis ditangkap polisi dikarenakan aborsi berulang-ulang kali" . Saat itu juga pingin kasih tau ke Sang Pencipta manusia " Kenapa bayi itu tidak kau titipkan saja di rahim ku" , "Kenapa dia yang kau percayakan memiliki bayi itu, padahal dia membunuhnya", "Apakah aku jauh tidak layak menerima seorang bayi dibandingkan ABG yang aborsi itu?". Banyak pertanyaan protes kita kepada Sang Pencipta. Namun hal yang bisa kita lakukan hanya terus berjuang dan penuh harap Tuhan mau dibujuk untuk segera mengabulkan kerinduan besar ini.
Rasa sesak itu gak berhenti disitu saja, terkadang kita menyimpan pahit kata-kata racun yang membekas sekali didalam hati. Bagi mereka itu basa-basi atau berlalu begitu saja. Tidak bagi kita ya bund. Kata-kata pahit yang lebih pahit dari empedu diantaranya:
1. Sudah berapa anakmu say?
2. Kapan hamil?
3. Jangan nunda-nunda, nanti kebablasan.
4. Segera kasih suami anak, hati-hatiloh kalo suami bisa direbut pelakor.
5. Family besar said " Kapan kasih anak kami ini anak nang, udah gak sabar kami lah"
6. yang kekmananya kalian dua masa belum ada juga, payah buatnya biar diajari.
7. Kurang usaha kaulah, coba ini coba itu.
8. Anakku aja yang baru nikah udah duluan punya anak, masa kalian belum juga.
Emak-emak julid yang merasa jauh lebih handal dan ratu menghakimipun bereaksi berlebihan. Yuk.. bund. Jangan sampai mental healthy kalian terjun payung hanya karena omongan orang-orang yang julid. ingat bun kesehatan mentalmu jauh lebih utama dibanding omongan-omongan mereka. Pejuang garis dua harus bisa menjaga mental, jiwa dan pikiran sehat. Teruslah kita berjuang, berdoa dan percaya akan ada pelangi sehabis hujan untuk kita para istri-istri pejuang garis dua.
Comments
Post a Comment